Dan cinta yang telah menghujam kuat diantara keduanya mampu merubah semuanya. hari-hari tak lagi seperti biasa. Dan cinta yang semakin mendapat tempat telah terpupuk dan makin berkembang hingga punya kekuatan besar yang bisa dianggap; amat merusak -- sekaligus menghidupkan...
Menghidupkan, karena sejak bercintaan dengan Vronskii, Anna merasa terlahir kembali menjadi sosok yang berbeda, merasa menjadi diri sendiri yang sesungguhnya. Tak ada kebahagiaan yang lebih hakiki yang ingin diperolehnya selain hanya bersama Vronskii dan saling mencintai. Demi cinta, Anna memilih meninggalkan keluarga; suami, anak, dan status sosialnya. Ia telah dicoret dari kalangan bangsawanan.
Namun apa yang menjadi impian tertinggi ternyata bukanlah wujud akhir dari kesempurnaan. Anna berkorban atas segala penderitaan, kehinaan, dan pengucilan. Tak heran jika ia mengharap kompensasi, yang pada akhirnya justru menjadi sebuah tuntutan. Tuntutan akan cinta Vronskii yang sepadan.
Tuntutan itulah yang akhirnya membuat Anna menjadi teramat posesif pada Vronskii. Tak ingin ditinggal sendirian, rasa cemburu yang membabi buta, dan rasa was-was yang penuh selidik. Sikap ini malah membuat Vronskii merasa berang, tak nyaman dan makin tak tahan. Tak pelak, rasa cinta Vronskii lambat laun menjadi berkurang.
Anna yang sebelumnya merasa tak nyaman dengan pergulatan perasaannya sendiri kini menjadi lebih tak nyaman lagi dengan hidangan sikap dingin Vronskii -- yang tak lagi mencintainya seperti dulu. Kita merasa bahwa harapan dan obsesi ideal telah memudar, meranggas, dan hancur, maka tinggal menyisakan kefrustasian pada hidup. Hidup yang tak lagi terasa berarti, melainkan kepedihan yang tak tertanggungkan. Dan ending bunuh diri dengan cara menabrakkan diri dengan kereta api menjadi sebuah pilihan yang dramatis -- dan tragis...
Pergolakan jika Anna Karenina yang luar biasa tergambarkan secara dalam dan jelas. Sebagai wanita yang berada pada jalan 'nyaris' sempurna, bersit kesombongan pun tak bisa dipungkiri adanya. Anna yang selalu mempesona siapa saja yang memandang dan berdekatan, sosok yang teramat agung dan sempurna, namun toh ia menjadi porak poranda karena cinta yang salah. Kenekatan, kegairahan, keputusasaan, kebencian, dendam, hingga frustasi yang tak tertolong terdeskripsikan secara gamblang dan manusiawi. Bahkan secara tak langsung, penggambaran rasa iri, dengki, cemburu, posesif, perasa, dan impulsif yang senyatanya adalah stereotipe kaum wanita mendapat tempat untuk ditonjolkan.
Apakah hal-hal semacam itu menjadi kekuatan yang sekaligus kelemahan wanita, tampaknya Tolstoi tak hendak membuat putusan tersebut dengan hanya berpijak pada tokoh Anna yang tragis dan memprihatinkan. Tolstoi menyajikan beragam tokoh yang juga mendapat porsi penggambaran detail yang amat menyentuh dan dipahami. Seolah hendak mengatakan bahwa hidup menyajikan beragam karakter dan keadaan yang baik buruknya pun kadangkala subyektif.
Dan novel ini memang tak hanya sekedar menyajikan kisah rumah tangga dan segala kemelut Anna. Setidaknya, ada dua rumah tangga lain yang menjadi sorotan utama dari cerita novel keseluruhan. Rumah tangga Oblonskii dengan Dolly yang sebenarnya lebih menampilkan ironi yang terbiasa, dan rumah tangga Levin dengan Kitty yang coba meraba-raba pijakan dalam mengarungi bahteranya hingga menjadi cerminan yang ideal.
Oblonskii yang teramat pragmatis dan duniawi memiliki kacamata sendiri dalam menghadapi hidup dan perkawinannya. Jabatan, status sosial, dan kesenangan duniawi adalah hidup yang semata-mata. Namun istrinya, Dolly, sebenarnya tak hendak menelan getir kehidupan yang makin lama makin dirasanya. Apa daya, karena alasan klise yang menganggap posisi diri terlalu lemah, ia toh bertahan saja pada kondisi demikian -- hanya berkutat dengan urusan domestik dan pasrah pada takdir.
Sungguh berbeda dengan Anna yang lebih memilih jalan memberontak pada situasi yang dianggapnya tak lagi bisa diselamatkan.
Meski dalam permasalahan yang berbeda, namun perempuan yang notabene cenderung mengandalkan ego perasaan, pun memiliki kecenderungan yang berbeda dalam merespon masalah.Aleksei Alexandrovich yang merasa menjadi suami yang terperdaya dan terkhianati digambarkan mencoba memiliki sikap yang agung dan besar hati, meski dilema dan keresahan yang timbul ternyata tak bisa dikesampingkan, melainkan menjadi urusan yang runyam dan pelik.
Salah satu kekuatan Tolstoy adalah kedetilan dan kekompleksan dalam penggambaran, baik itu karakter maupun setting. Dalam Anna Karenina, Anda akan benar-benar membuktikannya.
Salah satu kekuatan Tolstoy adalah kedetilan dan kekompleksan dalam penggambaran, baik itu karakter maupun setting. Dalam Anna Karenina, Anda akan benar-benar membuktikannya.