3/23/09

Larung

Judul : Larung
Pengarang : Ayu Utami
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Terbitan : November 2001

Sebuah karya Ayu Utami yang menyindir era perpolitikan negeri tercinta ini, saat para aktivis harus bermain kucing-kucingan dengan para ‘penegak’ negara karena dianggap menyebarkan propaganda yang menjerumuskan.

Larung, sosok muda yang punya nyali membunuh neneknya sendiri, harus berjibaku menolong para aktivis yang terancam hukuman, yakni dengan mencoba menyelundupkan mereka supaya bisa keluar dari Indonesia.

Novel ini merupakan sekuel dari Saman, novel terdahulunya. Oleh karena itu, tokoh Saman pun ikut andil besar dalam menyelesaikan cerita yang berakhir tragedi.

The Bonesetter's Daughter

Judul : Putri Sang Tabib Tulang
Pengarang : Amy Tan
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 384 hal
Cetakan : I, September 2005


Ruth tak pernah menduga bahwa sosok ibu yang dipikirnya amat merepotkan sejak menderita Dementia ternyata memiliki sejarah hidup luar biasa yang mengungkap jati diri dan nenek moyangnya.
Foto bibi tersayang yang selama ini bersembunyi di bilik dompet ibunya, dan diakui sebagai pengasuh ibunya, ternyata adalah seorang putri tabib tulang terkenal yang juga adalah neneknya.
Upaya Luling, sang ibu, saat berusaha mengambil hati keluarga Lu hanyalah sia-sia belaka karena ia tak lain adalah anak jadah dari pengasuhnya. Belum lagi dengan perjuangannya saat berjibaku di panti asuhan milik Amerika. Situasi perang antara Jepang dan kaum nasionalis membuat keadaan makin bertambah runyam dan tak pasti. Suami pertama, Kai Jing telah menjadi korban perang. Tak ada lagi harapan tersisa, selain meretas asa di tanah jauh yang bebas dari kutukan, Amerika.
Kini, waktu merambat semakin cepat. Ruth tak ingin kehilangan kesempatan membahagiakan ibunya. Nyaris terlambat, karena ia baru saja mengetahui banyak kenyataan dan kebenaran tentang ibunya.

3/20/09

The White Castle


Judul : The White Castle

Pengarang : Orhan Pamuk

Penerbit : Serambi

Tahun :


Bukan kehendakku untuk pada akhirnya terdampar di negeri asing, apalagi untuk menjadi seorang budak. Tapi apa daya, takdir punya alurnya sendiri.

Namun semua mimpi buruk yang semula kupikirkan jadi berubah saat aku bertemu dengan Hoja, seseorang yang amat mirip denganku. Aku bahkan begitu kaget dengan kemiripan kami yang amat nyata. Dia lah yang menyelamatkanku dari hukuman jagal pasha. Kemudian ia lah yang menjadi tuanku selama beberapa lama.

Sampai kapanpun, kebersamaan kami takkan aku lupakan. Aku selalu merindukan saat kami duduk bersama dalam satu meja saling berhadapan dan menceritakan dosa masing-masing. Kami selalu sibuk menulis kisah-kisah menarik dan menafsirkan mimpi untuk sultan yang menyukai binatang. Kami saling bahu membahu kala membuat persiapan pesta kembang api, hingga mewujudkan ambisinya membuat senjata yang paling menakutkan. Namun kini aku tak tahu dimana ia berada, sejak kegagalan dalam perang menakhlukkan istana putih.


The White Castle adalah sebuah karya Orhan Pamuk terbaru. Masih tetap mengeksplorasi dunia dan budaya timur dengan setting Istanbul Turki di jaman kesultanan abad 17an, tampaknya novel ini jauh lebih ringan dan sederhana daripada produk terdahulunya, My Name is Red, yang telah membawanya menjadi peraih nobel sastra. Namun sekilas gaya Orhan Pamuk kali ini tampak mirip dengan Oman Maalouf.

Walau demikian, The White Castle amat layak menjadi bacaan pilihan Anda, apalagi mengingat nama besar Orhan Pamuk yang sudah tak diragukan lagi.


2/8/09

The Husband


The Husband
Dean Koontz
Penerbit Alvabet
Agustus 2007

Bisa membayangkan jika salah satu anggota keluarga yang kita sayangi diculik oleh penculik berdarah dingin yang meminta uang tebusan sebanyak 18 milyar ? (Jadi ingat kisah Raisya di negeri kita…) Ah… padahal untuk hidup sehari-hari saja kita sudah begitu mengetatkan anggaran…

Itulah yang dialami oleh Mitch Rafferty, tokoh utama dalam Novel “The Husband” karya Dean Koontz, pengarang terkenal Amerika, yang masuk dalam urutan teratas novel terlaris di negaranya.

Mitch hanyalah seorang tukang kebun sederhana yang selalu berpikir positif dan menganggap bahwa dunia dan sekelilingnya dipenuhi oleh keindahan dan kebaikan yang tulus. Namun pandangan hidupnya berubah seketika setelah istri tercintanya, Holly, tiba-tiba disandera oleh para penculik yang nampaknya cukup profesional dan meminta tebusan 2 juta dollar tanpa adanya keterlibatan polisi. Mulanya Mitch berpikir bahwa para penculik tersebut pasti salah sasaran karena ia hanyalah orang biasa yang tidak mungkin mendapatkan uang sejumlah tersebut. Rekeningnya sendiri hanya memiliki sebelas ribu dollar. Namun ketika para penculik itu kemudian menuntun dan memberi petunjuk bagaimana cara ia mendapatkan uang tersebut, akhirnya Mitch mengetahui motif para penculik, yang sebenarnya sasaran utama mereka adalah kakak kandung tersayangnya yang ternyata bersifat jauh dari dugaannya. Kakak yang selama ini dianggapnya sebagai pengayom dan pelindung adik-adiknya, kakak yang dianggapnya orang paling sukses namun sangat baik hati, ternyata tak lebih seperti seorang monster bermuka dua berdarah dingin dan tak berperasaan, yang bahkan tega membunuh kedua orang tuanya sebagai aksi balas dendam atas perlakuan masa kecilnya yang menjengkelkan.

Mitch, seorang yang sederhana dan berhati lurus, kini dihadapkan pada kenyataan bahwa dia harus sendirian dalam melawan kejahatan dan kebengisan yang menghampiri dirinya. Hanya dengan satu kekuatan luar biasa -- yakni kekuatan cinta, Mitch kini telah berubah menjadi sosok yang tangguh, gesit, tabah dan penuh strategi. Demi cintanya pada Holly, istrinya, Mitch akan melakukan apapun, bahkan termasuk menjadi seorang pembunuh sekalipun.

Dalam the husband, Koontz menulis dan bercerita dengan gaya yang sangat detail dan kronologis, sehingga pembaca bahkan bisa berdebar-debar dan berkeringat tiap-tiap mengikuti aksi-aksi yang penuh kejutan dalam novel ini. Pun pembaca mudah memahami pesan-pesan moral tersirat yang hendak disampaikan novel ini.

Meski ahli dalam mencipta novel-novel jenis thriller penuh misteri yang fantastis, namun Koontz kemudian menjadi sosok moralis dalam tiap-tiap bukunya (tak terkecuali dengan the husband). Sedang dalam the husband sendiri, salah satu hal yang hendak disampaikan Koontz pada para pembacanya yakni, bahwa pada dasarnya kehidupan di dunia ini hanya terdiri dari sisi-sisi hitam dan putih saja. Sedang faktor lain maupun sebab dari aspek psikologi dalam diri manusia atau sekitarnya, hanyalah riak-riak gelombang dalam air kehidupan semata.

Diantara karya-karya Koontz, the husband lebih melibatkan dan menekankan aspek-aspek psikologi. Tiap-tiap karakter yang ada, entah itu Mitch ataupun para penculik itu sendiri, tak lepas dari keterlibatan sisi-sisi psikologi dalam dirinya.

The husband yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebanyak 408 halaman oleh penerbit Alvabet pada bulan agustus 2007 ini bisa menjadi pilihan buku yang asyik dibaca bagi penggemar novel thriller. Apalagi brand yang telah diraih sebagai novel terlaris menurut versi NewYork Times yang telah diterjemahkan dalam 20 bahasa di 22 negara, The Husband sangat layak direkomendasikan.

NORA


NORA
Putu Wijaya
Penerbit Kompas
November 2007

NORA. Judul sebuah novel karya Putu Wijaya yang ditulis besar-besar di halaman sampul. Bacaan khusus dewasa terbitan Kompas, november 2007 ini adalah bagian pertama dari Tretralogi Dangdut. Artinya, akan menyusul 3 novel lagi untuk melengkapi keseluruhan cerita.

Meski berjudul Nora, tokoh utama dalam novel ini adalah Mala, pria bujang usia matang yang menjabat sebagai pemimpin redaksi sebuah media ternama ibu kota. Nora hanyalah tokoh yang dianggap dekorasi unik, segar, dan menggelikan -- yang justru membuat keseluruhan cerita menjadi lebih menarik dan addicted untuk terus dibaca hingga tuntas.

Mala. Seorang pemred sebuah media ternama, tak diragukan lagi kapasitas intelektual dan level prestige nya. Namun ternyata ia terjebak dalam sebuah situasi konyol, hingga akhirnya mengawini Nora -- tetangganya yang norak, tidak terpelajar, dan kampungan. Mulanya Mala menganggap keputusan tersebut adalah sebuah tantangan baru. Namun seiring waktu ia merenda kisah kehidupan perkawinannya dengan Nora, Mala akhirnya menyadari bahwa ia telah tercebur dalam kerumitan dan kekonyolan yang tiada habis.
Di sisi lain, jalinan persahabatannya yang erat dengan Adam dan Dori sang selebritis justru menyeretnya dalam kasus pelik yang bersinggungan dengan masalah politik dan praktek suap. Dan masalah itu semakin runyam ketika Dori menjadi korban pembunuhan sadis, dan Adam berubah menjadi lawan yang mengancam.
Namun ending novel ini masih belum memuaskan pembaca. Putu Wijaya justru meletakkan peak pada bagian terakhir, dengan harapan pembaca tak melewatkan bagian selanjutnya serial Tetralogi Dangdut.

Saat membuka halaman awal, kita akan dibuat bersemangat, kocak, dan 'saru tapi asyik', sejak Putu Wijaya menyuguhkan kisah Nora yang menjadi shock berat setelah melihat 'benda asing' milik Mala yang besar, hitam, dan panjang...
Kemudian cerita bergulir pada proses pernikahan Mala dan Nora yang penuh rekayasa, dan perjalanan kehidupan perkawinan mereka yang konyol. Mala menjadi jengkel dengan ulah keluarga Nora yang terang-terangan memanfaatkan dirinya. Ironisnya, mereka tak pernah menganggap 'eksistensi' Mala sebagai bagian dari keluarga mereka. Tanpa merasa berdosa, mereka justru merayu Nora untuk kawin lagi, dan meminta Mala untuk membiayai perkawinan Nora - istrinya, dengan laki-laki lain.

Nora adalah seorang gadis kampung yang konyol dan sulit untuk ditebak. Bahkan karakter dan tingkah lakunya cenderung absurd, meski menggelikan. Tak mengherankan jika Anda sampai berpikir, 'apa ya ada orang seperti Nora di dunia nyata ?'. Namun itulah kekuatan dunia fiksi, mengalir begitu saja tanpa adanya batasan-batasan yang mengungkung. Nora selalu hadir dalam bagian-bagian yang penuh kejutan. Ia membuat segar dan menghibur. Bayangkan sosok Nora nekat menjadi penumpang gelap dalam sebuah ketera ekonomi, padahal dia sendiri tak mengetahui hendak pergi kemana. Imajinasikan sosok Nora yang begitu inosen dan tanpa beban ketika meminta ijin Mala untuk pergi buat kawin lagi. Nora selalu bergulir dalam kesederhanaan dan kepolosannya, yang pada akhirnya membuat Mala lambat laun menyadari bahwa ia memang telah benar-benar jatuh cinta dan menyayangi Nora.

Boleh jadi novel ini pun cukup menegangkan dengan serentetan kasus 'seram' dan intrik-intrik yang bergejolak. Namun akan menjadi terasa membosankan, karena Putu Wijaya banyak beropini, menuangkan gagasan, pemikiran, dan pandangan idealnya, sehingga terkesan monolog. Seperti layaknya para politisi yang berpidato di depan kadernya, agamawan yang berkhotbah di mimbar peribadatan, pun Putu Wijaya dalam karyanya. Ia banyak menggulirkan pandangannya mengenai peran wanita, peran manusia dalam kemajuan jaman, demokrasi, kekuasaan, identitas dan kritik sosial, dan lain sebagainya. -- Berkat Nora, novel ini terasa lebih segar dan menarik, salah satunya sebagai bacaan yang menghibur.

Secara keseluruhan, novel ini cukup layak menjadi rekomendasi untuk menghabiskan weekend yang tenang! Happy nice reading!

Kalatidha


Kalatidha

Seno Gumira Ajidarma

PT Gramedia Pustaka Utama

Januari 2007

Cetakan pertama


Sebuah kisah di era tahun 1965an memang bukanlah cerita biasa bagi negeri Indonesia tercinta. Saat para jendral kita terbantai dengan keji demi sebuah perebutan tampuk pimpinan dan kekuasaan, saat itu pulalah sang singa pembalas dendam bangkit menunjukkan aumnya. Kancah politik yang bergolak tak hanya melibatkan para pemimpin dan pemain langsungnya, melainkan juga menyeret segenap unsur terkecil dari masyarakat tak berdosa.

Peristiwa tandingan yang dianggap mengakhiri ternyata malah tak kalah keji.

Berikutnya, pembantaian para antek dan pengikut PKI, bahkan hingga yang sekedar dicurigai PKI dianggap sebagai pembersihan. Namun gambaran itu malah tak kalah brutal dan membabi buta. Terlukislah sebuah Kalatidha. Gambaran kegilaan yang merebak dalam hiruk pikuk kelabilan politik, ketakmapanan idealisme, dan keraguan keyakinan.

Melalui kuburan gadis kecil dalam hutan bambu, Seno Gumira Ajidarma mengantar pembaca meresapi rasa dibalik kegilaan, menuntun dibalik alur lain yang tak disinggung. Melalui sosok tukang kibul yang menghabiskan waktu di penjara sembari membaca kumpulan kliping milik kakaknya dan berkelana lintas dunia, SGA mengajak pembaca berkelana menyaksikan sosok perempuan yang menjadi gila karena kebiadaan, kemudian berubah menjadi sosok jelita penuh senjata tajam yang berkelebatan dari atap ke atap demi sebuah alibi balas dendam di masa silam.


6/30/08

Anna Karenina ; Pengorbanan Cinta berbuah tragedi...

Sebuah novel epik yang menunjukkan secara jelas kekuatan wanita, sekaligus kelemahan yang mengiringinya, tergambar dalam representasi sosok Anna Karenina.

Ini adalah kisah seorang wanita yang menjalani takdirnya; lahir dan besar di kalangan bangsawan yang berlimpah kemewahan, mendapat kedudukan dan kehormatan karena suami yang punya jabatan, apalagi dengan kecantikan yang menawan siapa saja yang memandang... Wow!!! Sorga apa lagi yang masih menjadi impian???

Dengan segala kesempurnaan tersebut, maka segala sesuatu yang tidak pada tempatnya bisa menjadi sumber petaka yang membawa aib dan kehinaan; bahkan sekalipun sesuatu itu adalah cinta yang sebenarnya proses naluriah dan alamiah.

Sayang sekali jika 'cinta' yang tidak pada tempatnya itu datang pada Anna. Maka, cap buruk yang dianggap melanggar norma masyarakat, kesusilaan sekaligus agama mencoreng kehidupannya. Namun apa boleh buat, cinta selalu pantas untuk diperjuangkan oleh siapapun...

Cinta yang dialami Anna tidak pada tempatnya, karena Anna telah bersuami dan memiliki anak. Sekonyong-konyong ia jatuh cinta pada Vronskii, seorang bujangan bangsawan yang mengabdi pada militer. Vronskii pun amat mengagumi Anna, bahkan cinta yang teramat sangat.
Dan cinta yang telah menghujam kuat diantara keduanya mampu merubah semuanya. hari-hari tak lagi seperti biasa. Dan cinta yang semakin mendapat tempat telah terpupuk dan makin berkembang hingga punya kekuatan besar yang bisa dianggap; amat merusak -- sekaligus menghidupkan...

Merusak, karena status sosial pasangan Anna dan Aleksei Alexandrovich Karenin (suami Anna yang amat terhormat) menjadi tercemar di kalangannya. Dari sisi agama pun dianggap sebagai dosa yang fatal. Dari sisi moril pun tak lagi bisa terjadi perbaikan (lebih karena rasa enggan untuk memperbaiki), karena rasa tanggung jawab telah tergantikan dengan ambisi perwujudan cinta yang menggairahkan.
Menghidupkan, karena sejak bercintaan dengan Vronskii, Anna merasa terlahir kembali menjadi sosok yang berbeda, merasa menjadi diri sendiri yang sesungguhnya. Tak ada kebahagiaan yang lebih hakiki yang ingin diperolehnya selain hanya bersama Vronskii dan saling mencintai. Demi cinta, Anna memilih meninggalkan keluarga; suami, anak, dan status sosialnya. Ia telah dicoret dari kalangan bangsawanan.

Namun apa yang menjadi impian tertinggi ternyata bukanlah wujud akhir dari kesempurnaan. Anna berkorban atas segala penderitaan, kehinaan, dan pengucilan. Tak heran jika ia mengharap kompensasi, yang pada akhirnya justru menjadi sebuah tuntutan. Tuntutan akan cinta Vronskii yang sepadan.

Tuntutan itulah yang akhirnya membuat Anna menjadi teramat posesif pada Vronskii. Tak ingin ditinggal sendirian, rasa cemburu yang membabi buta, dan rasa was-was yang penuh selidik. Sikap ini malah membuat Vronskii merasa berang, tak nyaman dan makin tak tahan. Tak pelak, rasa cinta Vronskii lambat laun menjadi berkurang.
Anna yang sebelumnya merasa tak nyaman dengan pergulatan perasaannya sendiri kini menjadi lebih tak nyaman lagi dengan hidangan sikap dingin Vronskii -- yang tak lagi mencintainya seperti dulu.

Kita merasa bahwa harapan dan obsesi ideal telah memudar, meranggas, dan hancur, maka tinggal menyisakan kefrustasian pada hidup. Hidup yang tak lagi terasa berarti, melainkan kepedihan yang tak tertanggungkan. Dan ending bunuh diri dengan cara menabrakkan diri dengan kereta api menjadi sebuah pilihan yang dramatis -- dan tragis...

Sebuah drama luar biasa yang amat mengesankan dan humanis. Meski bersetting lingkungan bangsawan Rusia abad 18 yang sulit bagi kita terbayangkan, namun pergolakan jiwa dan abtin yang terpapar terasa nyata, menyentuh, dan menggugah. Inilah yang disebut dengan sisi humanis dari novel ini. Betapa detailnya pengarang menggambarkan sosok karakter berikut pergolakan batin dan pemikirannya yang amat rumit dan bersifat personal. Dan itulah kekuatan Leo Tolstoy dalam novel ini, sehingga layak dianggap sebagai pujangga besar. Anna Karenina menjadi novel terbaiknya dalam sejarah.

Pergolakan jika Anna Karenina yang luar biasa tergambarkan secara dalam dan jelas. Sebagai wanita yang berada pada jalan 'nyaris' sempurna, bersit kesombongan pun tak bisa dipungkiri adanya. Anna yang selalu mempesona siapa saja yang memandang dan berdekatan, sosok yang teramat agung dan sempurna, namun toh ia menjadi porak poranda karena cinta yang salah. Kenekatan, kegairahan, keputusasaan, kebencian, dendam, hingga frustasi yang tak tertolong terdeskripsikan secara gamblang dan manusiawi. Bahkan secara tak langsung, penggambaran rasa iri, dengki, cemburu, posesif, perasa, dan impulsif yang senyatanya adalah stereotipe kaum wanita mendapat tempat untuk ditonjolkan.

Apakah hal-hal semacam itu menjadi kekuatan yang sekaligus kelemahan wanita, tampaknya Tolstoi tak hendak membuat putusan tersebut dengan hanya berpijak pada tokoh Anna yang tragis dan memprihatinkan. Tolstoi menyajikan beragam tokoh yang juga mendapat porsi penggambaran detail yang amat menyentuh dan dipahami. Seolah hendak mengatakan bahwa hidup menyajikan beragam karakter dan keadaan yang baik buruknya pun kadangkala subyektif.

Dan novel ini memang tak hanya sekedar menyajikan kisah rumah tangga dan segala kemelut Anna. Setidaknya, ada dua rumah tangga lain yang menjadi sorotan utama dari cerita novel keseluruhan. Rumah tangga Oblonskii dengan Dolly yang sebenarnya lebih menampilkan ironi yang terbiasa, dan rumah tangga Levin dengan Kitty yang coba meraba-raba pijakan dalam mengarungi bahteranya hingga menjadi cerminan yang ideal.

Oblonskii yang teramat pragmatis dan duniawi memiliki kacamata sendiri dalam menghadapi hidup dan perkawinannya. Jabatan, status sosial, dan kesenangan duniawi adalah hidup yang semata-mata. Namun istrinya, Dolly, sebenarnya tak hendak menelan getir kehidupan yang makin lama makin dirasanya. Apa daya, karena alasan klise yang menganggap posisi diri terlalu lemah, ia toh bertahan saja pada kondisi demikian -- hanya berkutat dengan urusan domestik dan pasrah pada takdir.

Sungguh berbeda dengan Anna yang lebih memilih jalan memberontak pada situasi yang dianggapnya tak lagi bisa diselamatkan.
Meski dalam permasalahan yang berbeda, namun perempuan yang notabene cenderung mengandalkan ego perasaan, pun memiliki kecenderungan yang berbeda dalam merespon masalah.

Sekali lagi, diantara kehebatan Tolstoi dalam karya ini, yakni dalam menampilkan karakter perempuan yang begitu detail dan jeli, meski ia seorang pria...
Dan layaknya pengarang pria, tokoh karakter pria yang ditampilkan pun teramat kuat dan sangat berpengaruh. Lepas dari masalah gender, Tolstoi lebih menekankan sikap dalam menghadapi konflik ketimbang peranan sosial -- yang tak bisa dihindari, juga tampak nyata tanpa perlu penekanan yang berlebihan.

Aleksei Alexandrovich yang merasa menjadi suami yang terperdaya dan terkhianati digambarkan mencoba memiliki sikap yang agung dan besar hati, meski dilema dan keresahan yang timbul ternyata tak bisa dikesampingkan, melainkan menjadi urusan yang runyam dan pelik.

Salah satu kekuatan Tolstoy adalah kedetilan dan kekompleksan dalam penggambaran, baik itu karakter maupun setting. Dalam Anna Karenina, Anda akan benar-benar membuktikannya.