
NORA
Putu Wijaya
Penerbit Kompas
November 2007
NORA. Judul sebuah novel karya Putu Wijaya yang ditulis besar-besar di halaman sampul. Bacaan khusus dewasa terbitan Kompas, november 2007 ini adalah bagian pertama dari Tretralogi Dangdut. Artinya, akan menyusul 3 novel lagi untuk melengkapi keseluruhan cerita.
Meski berjudul Nora, tokoh utama dalam novel ini adalah Mala, pria bujang usia matang yang menjabat sebagai pemimpin redaksi sebuah media ternama ibu kota. Nora hanyalah tokoh yang dianggap dekorasi unik, segar, dan menggelikan -- yang justru membuat keseluruhan cerita menjadi lebih menarik dan addicted untuk terus dibaca hingga tuntas.
Mala. Seorang pemred sebuah media ternama, tak diragukan lagi kapasitas intelektual dan level prestige nya. Namun ternyata ia terjebak dalam sebuah situasi konyol, hingga akhirnya mengawini Nora -- tetangganya yang norak, tidak terpelajar, dan kampungan. Mulanya Mala menganggap keputusan tersebut adalah sebuah tantangan baru. Namun seiring waktu ia merenda kisah kehidupan perkawinannya dengan Nora, Mala akhirnya menyadari bahwa ia telah tercebur dalam kerumitan dan kekonyolan yang tiada habis.
Di sisi lain, jalinan persahabatannya yang erat dengan Adam dan Dori sang selebritis justru menyeretnya dalam kasus pelik yang bersinggungan dengan masalah politik dan praktek suap. Dan masalah itu semakin runyam ketika Dori menjadi korban pembunuhan sadis, dan Adam berubah menjadi lawan yang mengancam.
Namun ending novel ini masih belum memuaskan pembaca. Putu Wijaya justru meletakkan peak pada bagian terakhir, dengan harapan pembaca tak melewatkan bagian selanjutnya serial Tetralogi Dangdut.
Saat membuka halaman awal, kita akan dibuat bersemangat, kocak, dan 'saru tapi asyik', sejak Putu Wijaya menyuguhkan kisah Nora yang menjadi shock berat setelah melihat 'benda asing' milik Mala yang besar, hitam, dan panjang...
Kemudian cerita bergulir pada proses pernikahan Mala dan Nora yang penuh rekayasa, dan perjalanan kehidupan perkawinan mereka yang konyol. Mala menjadi jengkel dengan ulah keluarga Nora yang terang-terangan memanfaatkan dirinya. Ironisnya, mereka tak pernah menganggap 'eksistensi' Mala sebagai bagian dari keluarga mereka. Tanpa merasa berdosa, mereka justru merayu Nora untuk kawin lagi, dan meminta Mala untuk membiayai perkawinan Nora - istrinya, dengan laki-laki lain.
Nora adalah seorang gadis kampung yang konyol dan sulit untuk ditebak. Bahkan karakter dan tingkah lakunya cenderung absurd, meski menggelikan. Tak mengherankan jika Anda sampai berpikir, 'apa ya ada orang seperti Nora di dunia nyata ?'. Namun itulah kekuatan dunia fiksi, mengalir begitu saja tanpa adanya batasan-batasan yang mengungkung. Nora selalu hadir dalam bagian-bagian yang penuh kejutan. Ia membuat segar dan menghibur. Bayangkan sosok Nora nekat menjadi penumpang gelap dalam sebuah ketera ekonomi, padahal dia sendiri tak mengetahui hendak pergi kemana. Imajinasikan sosok Nora yang begitu inosen dan tanpa beban ketika meminta ijin Mala untuk pergi buat kawin lagi. Nora selalu bergulir dalam kesederhanaan dan kepolosannya, yang pada akhirnya membuat Mala lambat laun menyadari bahwa ia memang telah benar-benar jatuh cinta dan menyayangi Nora.
Boleh jadi novel ini pun cukup menegangkan dengan serentetan kasus 'seram' dan intrik-intrik yang bergejolak. Namun akan menjadi terasa membosankan, karena Putu Wijaya banyak beropini, menuangkan gagasan, pemikiran, dan pandangan idealnya, sehingga terkesan monolog. Seperti layaknya para politisi yang berpidato di depan kadernya, agamawan yang berkhotbah di mimbar peribadatan, pun Putu Wijaya dalam karyanya. Ia banyak menggulirkan pandangannya mengenai peran wanita, peran manusia dalam kemajuan jaman, demokrasi, kekuasaan, identitas dan kritik sosial, dan lain sebagainya. -- Berkat Nora, novel ini terasa lebih segar dan menarik, salah satunya sebagai bacaan yang menghibur.
Secara keseluruhan, novel ini cukup layak menjadi rekomendasi untuk menghabiskan weekend yang tenang! Happy nice reading!
Putu Wijaya
Penerbit Kompas
November 2007
NORA. Judul sebuah novel karya Putu Wijaya yang ditulis besar-besar di halaman sampul. Bacaan khusus dewasa terbitan Kompas, november 2007 ini adalah bagian pertama dari Tretralogi Dangdut. Artinya, akan menyusul 3 novel lagi untuk melengkapi keseluruhan cerita.
Meski berjudul Nora, tokoh utama dalam novel ini adalah Mala, pria bujang usia matang yang menjabat sebagai pemimpin redaksi sebuah media ternama ibu kota. Nora hanyalah tokoh yang dianggap dekorasi unik, segar, dan menggelikan -- yang justru membuat keseluruhan cerita menjadi lebih menarik dan addicted untuk terus dibaca hingga tuntas.
Mala. Seorang pemred sebuah media ternama, tak diragukan lagi kapasitas intelektual dan level prestige nya. Namun ternyata ia terjebak dalam sebuah situasi konyol, hingga akhirnya mengawini Nora -- tetangganya yang norak, tidak terpelajar, dan kampungan. Mulanya Mala menganggap keputusan tersebut adalah sebuah tantangan baru. Namun seiring waktu ia merenda kisah kehidupan perkawinannya dengan Nora, Mala akhirnya menyadari bahwa ia telah tercebur dalam kerumitan dan kekonyolan yang tiada habis.
Di sisi lain, jalinan persahabatannya yang erat dengan Adam dan Dori sang selebritis justru menyeretnya dalam kasus pelik yang bersinggungan dengan masalah politik dan praktek suap. Dan masalah itu semakin runyam ketika Dori menjadi korban pembunuhan sadis, dan Adam berubah menjadi lawan yang mengancam.
Namun ending novel ini masih belum memuaskan pembaca. Putu Wijaya justru meletakkan peak pada bagian terakhir, dengan harapan pembaca tak melewatkan bagian selanjutnya serial Tetralogi Dangdut.
Saat membuka halaman awal, kita akan dibuat bersemangat, kocak, dan 'saru tapi asyik', sejak Putu Wijaya menyuguhkan kisah Nora yang menjadi shock berat setelah melihat 'benda asing' milik Mala yang besar, hitam, dan panjang...
Kemudian cerita bergulir pada proses pernikahan Mala dan Nora yang penuh rekayasa, dan perjalanan kehidupan perkawinan mereka yang konyol. Mala menjadi jengkel dengan ulah keluarga Nora yang terang-terangan memanfaatkan dirinya. Ironisnya, mereka tak pernah menganggap 'eksistensi' Mala sebagai bagian dari keluarga mereka. Tanpa merasa berdosa, mereka justru merayu Nora untuk kawin lagi, dan meminta Mala untuk membiayai perkawinan Nora - istrinya, dengan laki-laki lain.
Nora adalah seorang gadis kampung yang konyol dan sulit untuk ditebak. Bahkan karakter dan tingkah lakunya cenderung absurd, meski menggelikan. Tak mengherankan jika Anda sampai berpikir, 'apa ya ada orang seperti Nora di dunia nyata ?'. Namun itulah kekuatan dunia fiksi, mengalir begitu saja tanpa adanya batasan-batasan yang mengungkung. Nora selalu hadir dalam bagian-bagian yang penuh kejutan. Ia membuat segar dan menghibur. Bayangkan sosok Nora nekat menjadi penumpang gelap dalam sebuah ketera ekonomi, padahal dia sendiri tak mengetahui hendak pergi kemana. Imajinasikan sosok Nora yang begitu inosen dan tanpa beban ketika meminta ijin Mala untuk pergi buat kawin lagi. Nora selalu bergulir dalam kesederhanaan dan kepolosannya, yang pada akhirnya membuat Mala lambat laun menyadari bahwa ia memang telah benar-benar jatuh cinta dan menyayangi Nora.
Boleh jadi novel ini pun cukup menegangkan dengan serentetan kasus 'seram' dan intrik-intrik yang bergejolak. Namun akan menjadi terasa membosankan, karena Putu Wijaya banyak beropini, menuangkan gagasan, pemikiran, dan pandangan idealnya, sehingga terkesan monolog. Seperti layaknya para politisi yang berpidato di depan kadernya, agamawan yang berkhotbah di mimbar peribadatan, pun Putu Wijaya dalam karyanya. Ia banyak menggulirkan pandangannya mengenai peran wanita, peran manusia dalam kemajuan jaman, demokrasi, kekuasaan, identitas dan kritik sosial, dan lain sebagainya. -- Berkat Nora, novel ini terasa lebih segar dan menarik, salah satunya sebagai bacaan yang menghibur.
Secara keseluruhan, novel ini cukup layak menjadi rekomendasi untuk menghabiskan weekend yang tenang! Happy nice reading!
No comments:
Post a Comment