2/8/09

The Husband


The Husband
Dean Koontz
Penerbit Alvabet
Agustus 2007

Bisa membayangkan jika salah satu anggota keluarga yang kita sayangi diculik oleh penculik berdarah dingin yang meminta uang tebusan sebanyak 18 milyar ? (Jadi ingat kisah Raisya di negeri kita…) Ah… padahal untuk hidup sehari-hari saja kita sudah begitu mengetatkan anggaran…

Itulah yang dialami oleh Mitch Rafferty, tokoh utama dalam Novel “The Husband” karya Dean Koontz, pengarang terkenal Amerika, yang masuk dalam urutan teratas novel terlaris di negaranya.

Mitch hanyalah seorang tukang kebun sederhana yang selalu berpikir positif dan menganggap bahwa dunia dan sekelilingnya dipenuhi oleh keindahan dan kebaikan yang tulus. Namun pandangan hidupnya berubah seketika setelah istri tercintanya, Holly, tiba-tiba disandera oleh para penculik yang nampaknya cukup profesional dan meminta tebusan 2 juta dollar tanpa adanya keterlibatan polisi. Mulanya Mitch berpikir bahwa para penculik tersebut pasti salah sasaran karena ia hanyalah orang biasa yang tidak mungkin mendapatkan uang sejumlah tersebut. Rekeningnya sendiri hanya memiliki sebelas ribu dollar. Namun ketika para penculik itu kemudian menuntun dan memberi petunjuk bagaimana cara ia mendapatkan uang tersebut, akhirnya Mitch mengetahui motif para penculik, yang sebenarnya sasaran utama mereka adalah kakak kandung tersayangnya yang ternyata bersifat jauh dari dugaannya. Kakak yang selama ini dianggapnya sebagai pengayom dan pelindung adik-adiknya, kakak yang dianggapnya orang paling sukses namun sangat baik hati, ternyata tak lebih seperti seorang monster bermuka dua berdarah dingin dan tak berperasaan, yang bahkan tega membunuh kedua orang tuanya sebagai aksi balas dendam atas perlakuan masa kecilnya yang menjengkelkan.

Mitch, seorang yang sederhana dan berhati lurus, kini dihadapkan pada kenyataan bahwa dia harus sendirian dalam melawan kejahatan dan kebengisan yang menghampiri dirinya. Hanya dengan satu kekuatan luar biasa -- yakni kekuatan cinta, Mitch kini telah berubah menjadi sosok yang tangguh, gesit, tabah dan penuh strategi. Demi cintanya pada Holly, istrinya, Mitch akan melakukan apapun, bahkan termasuk menjadi seorang pembunuh sekalipun.

Dalam the husband, Koontz menulis dan bercerita dengan gaya yang sangat detail dan kronologis, sehingga pembaca bahkan bisa berdebar-debar dan berkeringat tiap-tiap mengikuti aksi-aksi yang penuh kejutan dalam novel ini. Pun pembaca mudah memahami pesan-pesan moral tersirat yang hendak disampaikan novel ini.

Meski ahli dalam mencipta novel-novel jenis thriller penuh misteri yang fantastis, namun Koontz kemudian menjadi sosok moralis dalam tiap-tiap bukunya (tak terkecuali dengan the husband). Sedang dalam the husband sendiri, salah satu hal yang hendak disampaikan Koontz pada para pembacanya yakni, bahwa pada dasarnya kehidupan di dunia ini hanya terdiri dari sisi-sisi hitam dan putih saja. Sedang faktor lain maupun sebab dari aspek psikologi dalam diri manusia atau sekitarnya, hanyalah riak-riak gelombang dalam air kehidupan semata.

Diantara karya-karya Koontz, the husband lebih melibatkan dan menekankan aspek-aspek psikologi. Tiap-tiap karakter yang ada, entah itu Mitch ataupun para penculik itu sendiri, tak lepas dari keterlibatan sisi-sisi psikologi dalam dirinya.

The husband yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebanyak 408 halaman oleh penerbit Alvabet pada bulan agustus 2007 ini bisa menjadi pilihan buku yang asyik dibaca bagi penggemar novel thriller. Apalagi brand yang telah diraih sebagai novel terlaris menurut versi NewYork Times yang telah diterjemahkan dalam 20 bahasa di 22 negara, The Husband sangat layak direkomendasikan.

NORA


NORA
Putu Wijaya
Penerbit Kompas
November 2007

NORA. Judul sebuah novel karya Putu Wijaya yang ditulis besar-besar di halaman sampul. Bacaan khusus dewasa terbitan Kompas, november 2007 ini adalah bagian pertama dari Tretralogi Dangdut. Artinya, akan menyusul 3 novel lagi untuk melengkapi keseluruhan cerita.

Meski berjudul Nora, tokoh utama dalam novel ini adalah Mala, pria bujang usia matang yang menjabat sebagai pemimpin redaksi sebuah media ternama ibu kota. Nora hanyalah tokoh yang dianggap dekorasi unik, segar, dan menggelikan -- yang justru membuat keseluruhan cerita menjadi lebih menarik dan addicted untuk terus dibaca hingga tuntas.

Mala. Seorang pemred sebuah media ternama, tak diragukan lagi kapasitas intelektual dan level prestige nya. Namun ternyata ia terjebak dalam sebuah situasi konyol, hingga akhirnya mengawini Nora -- tetangganya yang norak, tidak terpelajar, dan kampungan. Mulanya Mala menganggap keputusan tersebut adalah sebuah tantangan baru. Namun seiring waktu ia merenda kisah kehidupan perkawinannya dengan Nora, Mala akhirnya menyadari bahwa ia telah tercebur dalam kerumitan dan kekonyolan yang tiada habis.
Di sisi lain, jalinan persahabatannya yang erat dengan Adam dan Dori sang selebritis justru menyeretnya dalam kasus pelik yang bersinggungan dengan masalah politik dan praktek suap. Dan masalah itu semakin runyam ketika Dori menjadi korban pembunuhan sadis, dan Adam berubah menjadi lawan yang mengancam.
Namun ending novel ini masih belum memuaskan pembaca. Putu Wijaya justru meletakkan peak pada bagian terakhir, dengan harapan pembaca tak melewatkan bagian selanjutnya serial Tetralogi Dangdut.

Saat membuka halaman awal, kita akan dibuat bersemangat, kocak, dan 'saru tapi asyik', sejak Putu Wijaya menyuguhkan kisah Nora yang menjadi shock berat setelah melihat 'benda asing' milik Mala yang besar, hitam, dan panjang...
Kemudian cerita bergulir pada proses pernikahan Mala dan Nora yang penuh rekayasa, dan perjalanan kehidupan perkawinan mereka yang konyol. Mala menjadi jengkel dengan ulah keluarga Nora yang terang-terangan memanfaatkan dirinya. Ironisnya, mereka tak pernah menganggap 'eksistensi' Mala sebagai bagian dari keluarga mereka. Tanpa merasa berdosa, mereka justru merayu Nora untuk kawin lagi, dan meminta Mala untuk membiayai perkawinan Nora - istrinya, dengan laki-laki lain.

Nora adalah seorang gadis kampung yang konyol dan sulit untuk ditebak. Bahkan karakter dan tingkah lakunya cenderung absurd, meski menggelikan. Tak mengherankan jika Anda sampai berpikir, 'apa ya ada orang seperti Nora di dunia nyata ?'. Namun itulah kekuatan dunia fiksi, mengalir begitu saja tanpa adanya batasan-batasan yang mengungkung. Nora selalu hadir dalam bagian-bagian yang penuh kejutan. Ia membuat segar dan menghibur. Bayangkan sosok Nora nekat menjadi penumpang gelap dalam sebuah ketera ekonomi, padahal dia sendiri tak mengetahui hendak pergi kemana. Imajinasikan sosok Nora yang begitu inosen dan tanpa beban ketika meminta ijin Mala untuk pergi buat kawin lagi. Nora selalu bergulir dalam kesederhanaan dan kepolosannya, yang pada akhirnya membuat Mala lambat laun menyadari bahwa ia memang telah benar-benar jatuh cinta dan menyayangi Nora.

Boleh jadi novel ini pun cukup menegangkan dengan serentetan kasus 'seram' dan intrik-intrik yang bergejolak. Namun akan menjadi terasa membosankan, karena Putu Wijaya banyak beropini, menuangkan gagasan, pemikiran, dan pandangan idealnya, sehingga terkesan monolog. Seperti layaknya para politisi yang berpidato di depan kadernya, agamawan yang berkhotbah di mimbar peribadatan, pun Putu Wijaya dalam karyanya. Ia banyak menggulirkan pandangannya mengenai peran wanita, peran manusia dalam kemajuan jaman, demokrasi, kekuasaan, identitas dan kritik sosial, dan lain sebagainya. -- Berkat Nora, novel ini terasa lebih segar dan menarik, salah satunya sebagai bacaan yang menghibur.

Secara keseluruhan, novel ini cukup layak menjadi rekomendasi untuk menghabiskan weekend yang tenang! Happy nice reading!

Kalatidha


Kalatidha

Seno Gumira Ajidarma

PT Gramedia Pustaka Utama

Januari 2007

Cetakan pertama


Sebuah kisah di era tahun 1965an memang bukanlah cerita biasa bagi negeri Indonesia tercinta. Saat para jendral kita terbantai dengan keji demi sebuah perebutan tampuk pimpinan dan kekuasaan, saat itu pulalah sang singa pembalas dendam bangkit menunjukkan aumnya. Kancah politik yang bergolak tak hanya melibatkan para pemimpin dan pemain langsungnya, melainkan juga menyeret segenap unsur terkecil dari masyarakat tak berdosa.

Peristiwa tandingan yang dianggap mengakhiri ternyata malah tak kalah keji.

Berikutnya, pembantaian para antek dan pengikut PKI, bahkan hingga yang sekedar dicurigai PKI dianggap sebagai pembersihan. Namun gambaran itu malah tak kalah brutal dan membabi buta. Terlukislah sebuah Kalatidha. Gambaran kegilaan yang merebak dalam hiruk pikuk kelabilan politik, ketakmapanan idealisme, dan keraguan keyakinan.

Melalui kuburan gadis kecil dalam hutan bambu, Seno Gumira Ajidarma mengantar pembaca meresapi rasa dibalik kegilaan, menuntun dibalik alur lain yang tak disinggung. Melalui sosok tukang kibul yang menghabiskan waktu di penjara sembari membaca kumpulan kliping milik kakaknya dan berkelana lintas dunia, SGA mengajak pembaca berkelana menyaksikan sosok perempuan yang menjadi gila karena kebiadaan, kemudian berubah menjadi sosok jelita penuh senjata tajam yang berkelebatan dari atap ke atap demi sebuah alibi balas dendam di masa silam.